Halo sobat sisi, jangan lupa share dan tinggalkan komentar ya…

Mari kita hadiahkan surat Al Fatihah kepada pengarang kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah Assakandari dan penerjemah kitab beliau KH. Ahmad Wafi Maimoen Zubair Lc, M.S.I.    Al Fatihah…..

Baca jugaYuk, Ngaji Al-Hikam

2Yuk, Ngaji Al-Hikam (2) 3Yuk, Ngaji Al-Hikam (3). 4 Yuk Ngaji Al-Hikam (4)

Hikmah 29

“Sangat berbeda antara orang yang meminta petunjuk dengan Allah SWT dan orang yang meminta petunjuk untuk Allah SWT. Orang yang meminta petunjuk dengan Allah SWT itu mengetahui kebenaran bagi pemiliknya dan menetapkan suatu masalah dari asal wujud-Nya, adapun menggunakan petunjuk untuk mengetahui Allah SWT itu muncul dari belum sampainya kepada Allah SWT karena kapan Allah SWT hilang, sehingga Dia perlu petunjuk untuk MenunjukkanNya? Kapan Dia jauhnya, sehingga makhluk-makhluk Nya itu membawa kepada-Nya?”

Hikmah 30

“(Orang yang mempunyai keluasan harta hendaklah berderma menurut kemampuannya) ini ditunjukkan kepada mereka yang telah sampai kepada Allah SWT (dan bagi siapa yang masih sempit rejekinya maka hendaknya ia mendermakan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya) ini ditunjukkan kepada mereka yang sedang menuju Allah SWT”

Hikmah 31

“Orang-orang yang berjalan menuju Allah SWT itu mendapatkan petunjuk dari nur-nur Tawajjuh ( dalil-dalil adanya Allah SWT ) dan orang orang yang sudah Wusul kepada Allah SWT memiliki Muwajahah (rahmat -rahmat Allah SWT ) maka golongan yang pertama dikuasai oleh Nur dan golongan kedua merekalah yang memiliki Nur karena mereka milik Nya Allah SWT bukan milik SelainNya. Allah SWT berfirman : ( ucapakanlah wahai Muhammad Dialah Allah lantas tinggalkan mereka bermain-main dalam kealpaan mereka”

Hikmah 32

“Keinginanmu untuk mengetahui aib-aib yang tersembunyi dari dirimu itu lebih baik dari pada keinginanmu untuk menyingkap sesuatu gaib yang tersembunyi darimu”

Hikmah 33

“Allah SWT yang Maha Haq itu tidak tertutupi akan tetapi engkaulah yang tertutup dari MelihatNya, karena kalau Dia tertutupi oleh sesuatu maka sesuatu itu menjadi hijab dan kalau Dia tertutupi oleh tutup maka tutup itu telah mengurung dan setiap sesuatu yang mengurung maka sesuatu itu telah menguasai (padahal Allah SWT Maha Kuasa atas hambaNya)”

Hikmah 34

“Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu yaitu setiap sifat yang bertentangan dengan Ubudiyahmu (penhambaan) supaya mudah bagimu menyambut panggilan Al Haq (Allah SWT) dan mendekat KehadiratNya”

Hikmah 35

“Asal dari setiap maksiat, lupa kepada Allah SWT dan syahwat, adalah ridho dengan nafsumu. Asal dari setiap ta at, ingat pada Allah SWT dan kesucian diri adalah engkau tidak ridho terhadap hawa nafsumu. Sungguh kamu berteman dengan orang bodoh yang tidak ridho akan nafsunya itu lebih baik daripada kamu berteman dengan3 orang yang alim yang ridho akan nafsunya. Apalah manfaat ilmunya orang alim yang ridho akan nafsunya dan apalah bahayanya orang bodoh yang tidak ridho akan nafsunya”

Hikmah 36

“Syu’aa’ul bashirah (sinar mata batin) memperlihatkan padamu KedekatanNya darimu. Ainul bashirah (penyaksian mata batin) membuatmu menyaksikan ketiadaanmu karena WujudNya. Dan Haqqul bashirah (mata batin yang hakiki) memperlihatkanmu kepada WujudNya bukan ketiadaanmu ataupun wujudmu”

Hikmah 37

“Allah SWT itu dulu ada dan tidak ada sesuatu pun BersamaNya dan sekarang masih sama seperti dulu”

Hikmah 38

Jangan niat dan harapanmu melewati kepada selain Allah SWT karena Allah SWT yang Maha pemurah itu tidak bisa dilewati oleh harapan-harapan”

Baca jugaMAKNA KEKURANGAN

Bersambung…. Yuk Ngaji Al Hikam (6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *