Halo sobat sisi, jangan lupa share dan tinggalkan komentar ya…

Oleh: Miswanto

Baca juga puisiMenunggu Cahayamu Kembali

Sajak rindu bernyanyi merdu

Di atas ranting hati yang kering

Kicauan cinta sang pujangga bersenandung

Memanggil-manggil ranting agar bergeming

Menyambut hati sang pujangga penuh bunga

Angin datang menerpa hati ranting

Ranting jatuh terjerembab di rawa cinta

Meski sakit, ranting tak menyesalinya

Dirawa itu, daun-daun yang gugur mulai membusuk

Berkisah bahwa angin pula yang menjatuhkan mereka

Ranting hanya terdiam

Dalam benaknya, angin adalah cinta pertamanya

Sulit, namun itulah kenyataannya

Kelak ranting juga akan membusuk

Merelakan atau ditinggalkan

Baginya, sama sakitnya

Dan nyatanya, waktu berlalu begitu cepat

Tapi lebih cepat seseorang melupakan

Meski orang itu pernah dicintainya

Waktu adalah obat

Bagi ranting hati yang patah

Baca Juga PuisiErosi Hati

Biografi singkat : Miswanto, Lahir di Wonogiri tanggal 05 Oktober 1990. Pegiat literasi dan penulis buku, diantara buku-bukunya berjudul “Kembali ke titik Bismillah”, “Apa yang harus aku katakan Kepada-Nya?” dan “Sajak para santri”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *