Alur hidup kita berawal dari kita lahir, kemudian disibukkan dengan kegiatan sekolah dan belajar tentang kehidupan. Setelah selesai dari bangku sekolah lalu mencari harta, menikah, tua kemudian mati.

Bila harta sedikit, kita dihina. Bila banyak harta, kita difitnah. Dan kebanyakan orang berharta banyak juga masalah. Jika badan sehat, terkadang musibah datang. Miskin juga begitu, sudah miskin tertimpa tangga. Bertubi-tubi pula.

Yang membuat sulit bahagia karena manusia mengejar kesenangan. Apalagi mengaitkan kesenangan dengan benda dan sarana. Contohnya diawal kita ingin punya pacar, dan mendambakannya berlebihan. Tetapi setelah berhasil terkadang terjadi percekcokan yang menyebabkan hati tidak senang lagi. Seperti halnya orang yang terobsesi dengan jabatan, saat jabatan banyak menimbulkan masalah, ia tidak lagi senang dengan jabatan.

Renungkan kisah nyata ini:

Dulu. Seorang penyair kampung dari Najd membuat syair memuji Nabi Saw. Dan dia dalam perjalanan menemui Nabi untuk masuk Islam.

Dalam perjalanan, penyair itu bertemu dengan Abu Sufyan menawarkan untuk dirinya beberapa onta, dengan syarat ia tidak boleh masuk Islam.

Penyair itu menerima tawaran Abu Sufyan, dan memutuskan pulang menaiki onta itu. Tiba-tiba ditengah jalan onta yang ia naik melompat ke atas dan menyebabkan si penyair itu meninggal seketika karena beberapa tulang punggung dan lehernya patah.

Maka matilah si penyair tanpa membawa harta (onta) dan tanpa harapan akhirat. Dunia lepas akhirat pun kandas.

Begitulah, sesibuk apapun urusan dunia kita, sisipkanlah akhirat. Jangan sampai dunia sirna, akhirat merana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *