Oleh: Miswanto

Pagi, wahai hati menjelang rindu

Cuacamu cerah bagaikan kenangan yang lalu

Aku harap harimu tak bersenandung pilu

Karena hasrat embun cinta mulai layu

Siang, wahai hati yang terik bahagia

Pancaran cahaya matahari cinta yang sempurna

Panas sinarmu menyentuh dengan manja

Hingga sengatan panasmu tak pernah kurasa

Sore, wahai hati yang mulai redup

Kalam sayang matahari mulai meredup

Membawa kisah pagi dan siang yang mengatup

Hingga dadaku mulai bernyanyi berdegup

Malam, wahai hati yang mulai tenggelam

Cinta dan kasih sayang yang mulai padam

Langit malam menangis karena hujan

Bintang hati bersembunyi bersama bulan

Hujan, wahai hati yang mulai menangis

Cinta dan sayangmu seperti pemanis

Terasa, namun hanya sementara

Pagi bertemu malam berganti tak lama

Kemarau, wahai hati yang mulai kering

Cuaca cerah, namun cinta semakin tandus

Sungai cintamu tak lagi mengalir seru

Gersang, sawah rindu mulai menggerutu

“Kapankah cuaca cinta kembali merdu”

Semerdu kisah cintaku padamu

Baca Juga PuisiSajak Malamku

Biografi singkat : Miswanto, Lahir di Wonogiri tanggal 05 Oktober 1990. Pegiat literasi dan penulis buku, diantara buku-bukunya berjudul “Kembali ke titik Bismillah”, “Apa yang harus aku katakan Kepada-Nya?” dan “Sajak para santri”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *